Hari ini tanggal 19 Desember 2011. Tepatnya hari senin. Memang tak seperti biasanya, hari ini terasa keliru. Setiap detiknya mengandung makna yang berbeda. Kegiatan ku menumpuk. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas yang padat satu minggu terakhir, tetapi semua tak sebanding dengan hari ini. Sungguh hari ini sangat mengesankan.

Lebih dari seminggu yang lalu, saya diajak naik gunung oleh teman-teman satu jurusan di salah satu Institut pertanian. Aku membutuhkan beberapa saat untuk memutuskan ikut atau tidak. Hal mendasar yang membuat ku berfikir keras adalah komitmen dalam menjalankan tugas sebagai pengajar. Sebagai pengajar bukan perkara yang mudah untuk memutuskan sesuatu apalagi melakukan kegiatan yang berlangsung berhari-hari tanpa menyesuaikan dengan jadwal siswa yang diajar.

Mungkin sudah takdir atau memang suatu histori yang terprogram, tanggal 19-20 Desember 2011 siswa yang saya ajar menghadiri wisuda bapaknya yang sekarang pangkatnya lebih tinggi dari kapolda. Setelah menghadiri wisuda, selama seminggu kedepan disekolahnya diadakan class metting atau perlombaan-perlombaan antar kelas yang biasanya diadakan setelah ujian akhir sekolah sehingga kegiatan les yang saya lakukan diliburkan dahulu. Senang rasanya. Sulit digambarkan oleh 26 digit huruf yang siap dirangkai menjadi kata-kata indah.

Setelah mendapatkan kepastian tersebut, saya langsung memberi tahu teman ku dan memastikan kalau aku bersedia ikut dan menjadi salah seorang rombongan untuk menaklukan Gunung Gede dan Pangrango.

Malam sebelum pendakian, lazimnya orang yang akan berpergian hal yang sedang dilakukan adalah melakukan persiapan. Mempersiapkan keperluan saat diperjalanan, saat ditempat tujuan dan saat genting lainnya. Hal paling paradoks malam ini adalah kegiatan ku. Aku sibuk menyelesaikan laporan akhir salah satu mata kuliah tanpa mempedulikan perlengkapan untuk naik gunung. Laporan akhir ini ku ibaratkan hujan di bulan Desember. Banyak dan tidak tahu selesainya kapan.

Setelah begadang semalamam, ditambah lagi kerja rodi pagi sampai sekitar jam 10.00 WIB akhirnya laporan akhir yang ku susun terselesaikan juga. Alhamdulillah. Setelah selesai, hal miris terjadi lagi. Perut ku mulai protes karena belum ada asupan karbohidrat, protein, ataupun mineral dan kurang mencukupinya air untuk melakukan proses metabolisme dalam tubuh sejak pagi tadi atau bahkan dari semalam. Aku sudah lupa.

Keberangkatan ke Gunung Putri untuk melakukan transit sebelum mendaki puncak Gunung Gede dan Pangrango terlaksana juga. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas lebih, telat satu jam lebih dari janji awal keberangkatan yaitu jam 10.30 WIB. Aku tak mempedulikan keterlambatan ini, mungkin karena sudah terbiasa atau karena kebudayaan bangsa Indonesia yang seperti ini. Hal yang paling aku pedulikan saat ini adalah perut ku yang sudah bosan untuk protes. Hal paling kejam mungkin terjadi saat cacing-cacing dalam perut memangsa sesamanya. Kelaparan, karena jatah mereka belum diberikan sang bos.

Akhirnya sebungkus masakan padang dengan lauk daging ayam sudah melegakan dan menimbulkan energi baru dalam tubuh.

Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih empat jam untuk sampai ke Gunung Putri terasa begitu menyenangkan. Dengan gelak canda, senda gurau dan tertawa kecil, semua terasa renyah dan mudah sekali dicerna oleh otak besar. Pembicaraan mengenai asmara yang kandas serta arah masa depan, semakin membuat semarak perjalanan.

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.00 saat segerombolan pendaki gunung dari sebuah Institut Pertanian sampai di Gunung Putri. Kami memutuskan untuk mengisi perut dahulu sebelum melaksanakan shalat dan melanjutkan perjalanan ke pos penjagaan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Sesampainya di pos penjagaan, kami ditanyai beberapa pertanyaan menyangkut keselamatan. Salah satu dari kami harus membacakan ulang peraturan yang tertulis di surat izin masuk taman nasional. Ada hal yang menghambat kami untuk cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Beberapa anggota dari kami tidak mengenakan SOP (standart opperational procedure) yang ditetapkan. Dengan sedikit berdebat serta penandatanganan suatu perjanjian bermaterai, akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan menyusuri lereng gunung.

Belum berapa lama kami mendaki, salah seorang teman kami mengalami suatu gejala yang menakutkan. Karena matahari sudah lama tengelam dan suara adzan maghrib sudah mulai terdengar, suasananya seketika berubah menjadi mencekam dengan sendirinya.

“Nor…nor jangan melamun, ayo berucap, katakan sesuatu” ujar seorang teman.

Bukan ucapan yang keluar, tetapi perubahan wajah yang semakin pias, pucat, putih yang sangat. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan tetapi aku mencoba berfikir rasional mengenai masalah ini. Setiap orang akan menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, begitu juga aku , kamu, dan mereka. Dengan berjalan mengunakan tas besar yang beratnya lebih dari sepuluh kilo dan perjalanan yang mendaki, belum terbiasa sehingga tubuh menjadi lemas. Ditambah lagi cuaca yang dingin. Menerkam dan membekukan sel-sel pembawa sel darah merah. Mungkin ini pikiran ku saat itu. Aku tak paham ilmu-ilmu lain tentang ini.

Akhirnya, semua kembali normal dengan sendirinya. Perjalanan kembali dilanjutkan. Dengan semangat-semangat untuk mencapai puncak, rasa ingin tahu yang besar, tidak mau kecewa dengan pulang tanpa hasil, atau tak ingin malu karena sudah terlanjur mengadang-gadangkan perjalanan ini, kami menerjang semua rintangan dan jalan yang memang dirancang untuk seorang pejalan kaki.

Malam menyapa di lereng Gunung Gede. Tertatih-tatih kami untuk mencapai pos satu. “Sebelum sampai puncak Gunung Gede kita harus melewati lima pos dan satu tempat peristirahatan dengan tumbuhan berdaun putih kehijauan berjejer bak prajurit perang. Edelweis nama tumbuhan itu di tempat peristirahatan Surya Kencana”. Penjelasan dari pemimpin perjalanan atau kapten, kami menyebutnya, memberikan harapan dan bayangan-bayangan konyol.

Pos dua terlewati dengan tenaga yang semakin berkurang. Nafas sudah tidak teratur. Kepala mulai berkunang-kunang. Tekanan yang semakin rendah, oksigen yang ditakdirkan menipis dan lelahnya semua otot dalam tubuh setelah terus berkontraksi. Perjalanan yang awal nya berkecepatan tinggi lambat laun menjadi lambat, semakin lambat dan kami sering beristirahat sebelum melewati pos tiga, sebelum pos empat dan sebelum pos lima.

Dalam suatu peristirahatan, kami mencoba untuk menyusup dalam heningnya malam. Lampu senter dan headlight yang kami bawa sengaja dimatikan. Hitam, hitam, sangat hitam. Tak ada lampu yang menerangi, iringan bunyi binatang malam menambah harmoni suasana peristirahatan ini. Terasa ada suatu kejadian yang sempat terlupakan, mencoba muncul kembali tapi tak teringat. Mencoba muncul lagi, tak teringat. Lupakan.

Saat aku menulis ini, aku mencoba mengingat kejadian itu.

Saat itu usia ku belasan tahun. Lupa sekali tepatnya berapa. Gelap sekali di jalan yang membelah perkebunan kelapa sawit sekitar desa ku. Aku bangga sekali menghisap nikotin. Membangakan diri. Ini aku. Seorang pemuda yang ingin tahu banyak hal, termasuk menghisap nikotin ini. Sebenarnya aku tak mau menceritakan lebih semua ini, karena aku yakin tidak semua akan mempercayai cerita masa lalu ku. Hitam, sunguh gelap masa itu.

Setelah berjam-jam berjalan, sekitar pukul 01.30 WIB kami sampai di tempat peristirahatan Surya Kencana. Karena masih dini hari, jajaran bunga edelweis yang berjejer bak prajurit terlihat samar-samar hanya putih kehijaun mengambarkan dedaunannya. Tenda siap ditegakkan. Tiupan angin kencang sekali. Seakan marah ingin mengusir kami dari tempat itu. Dingin, sunyi, senyap, hanya tiupan angin kencang menjadi topik utama disini. Kami tertidur, tak mempedulikan apapun. Rasa letih, lesu, ngantuk semua terkumpul dalam tubuh.

Pagi datang menjelang. Tak ada suara ayam jantan yang berkokok. Tetapi tiupan angin yang bertambah dingin menandakan hari sudah semakin pagi. Dulu ketika aku belajar ilmu Klimatologi, suhu di bumi akan mencapai puncak dingin saat jam 04.00 sampai jam 06.00 WIB dengan keadaan cuaca konstan tidak berubah dalam satu siklus hari. Berguna sekali ilmu ini.

Saat pusara benar-benar berubah menjadi putih, teman putri dari anggota kami mempersiapkan sarapan pagi. Bermodalkan beras, mi instan, telur, dan sosis yang sengaja dibawa dan dengan prosesi pemasakan dalam kompor gas kecil dan nesting seadanya, sarapan pagi khas Surya Kencana tersaji dengan begitu memesona.

Lahap benar kami menikmati sarapan pagi ini. Enak. Mantap. Walaupun sederhana tetapi sangat istimewa.

Sungguh keadaan sekarang berubah 180° dibandingkan saat kami pertama datang. Semuanya berubah menjadi cerah, berwarna putih kabut tebal, dan hijau dedaunan. Bunga edelweis yang terkenal sebagai bunga abadi nampak jelas. Putih sayu, elok tapi sayang tak berbunga. Pagi ini tak mau ku lupakan. Pagi ini akan selalu kukenang. Di sini , di Surya Kencana bawah puncak gunung Gede.

 

Jam 10.00 WIB perjalanan mendaki puncak Gunung Gede akan dilaksanakan. Semua berkemas, membereskan peralatan, membersihkan diri, menghimpun tenaga dan berdoa semoga semua berjalan lancar.

Perjalanan menuju puncak diawali oleh tiga putri disertai tiga putra. Selanjutnya, diikuti oleh sembilan putra yang sengaja terlambat karena menunggu seorang teman yang terlalu sibuk dengan urusan perutnya.

Jalan dari surya kencana menuju puncak Gunung Gede bertekstur kasar dengan bebatuan yang gampang sekali longsor. Satu orang untuk satu jalur. Sesak. Terjal. Bekas aliran air dari puncak gunung Gede.

Selain jalan yang terjal dan tak layak dilewati oleh ibu-ibu yang sedang mengandung, terpampang jejeran pepohonan hijau dan beberapa jenis gulma berdaun hijau. Entah ditata atau tidak, pepohonan yang tumbuh disini terlihat rapi, dengan tajuk yang hampir sama tinggi. Menakjubkan sekali.

Aku pernah belajar mengenai klorofil. Penyebab daun berwarna hijau. Dengan klorofil dan dedaunan yang berwarna hijau, pohon dapat mengubah zat kimia seperti air, unsur hara, udara, dan cahaya matahari menjadi zat organik yang dapat berguna bagi pohon itu sendiri, hewan bahkan manusia. Selain dapat memproduksi makanan sendiri, pohon juga menyerap gas karbon dioksida yang dalam jumlah tertentu dapat berbahaya dan melepaskan gas oksigen yang sangat berguna untuk pernafasan kita. sungguh luar biasa warna hijau ini.

Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, kejadian yang paling ditunggu sejak dibawah akhirnya terwujud. “puncak, sampai, sampai puncak boi”, teriak salah seorang teman yang terlanjur senang atas pencapaiannya. Puncak Gunung Gede dengan ketinggian 2958 meter dpl sudah ditaklukkan.

Gunung aktif dengan semburan uap belerang yang pekat. Bebatuan yang tertata. Pemandangan yang eksotis walaupun tertutup uap air yang putih dan menawarkan beberapa bunga edelweis yang tertata. Saat ini putih, putih oleh tebalnya uap air. Kadang hilang diusir angin, datang lagi. Pekat. Tak nampak. Kadang warna putih memberikan keindahan, terkadang juga warna putih menjadi penghalang untuk sebuah keindahan.

Aku berjalan menelusuri jalanan bebatuan di puncak gunung Gede sembari bertanya beberapa hal kepada ‘kapten’ kami. Dalam relung hati, aku akan berkata ini lah keindahan alam yang ku dapatkan. Keindahan dari yang maha pencipta. Keindahan warna hitam, hijau dan putih di Gunung Gede. Keindahan hidup untuk saling melengkapi. Cintanya, cinta mu, dan cinta ku membuat kita sekarang disini menerobos dan menerawang takdir yang tak menentu.

kumpulan tugas penkom (BLOG)

Awalnya tidak terbayangkan sama sekali untuk melanjutkan studi ke Kota Bogor. kelas tiga smester satu pun belum ada bayangan untuk berkuliah kemana tetapi orang tua merekomendasikan untuk kuliah di sekitar wilayah kelahiran yaitu di Universitas Andalas (Unand) atau Universitas Padang (UNP).

Universitas Andalas adalah Universitas yang terletak di wilayah perbukitan Limau Manis, Kecamatan Pauh, kira-kira 15 Km dari Padang, ibukota Sumatera Barat. Kampus Universitas Andalas mencakup area seluas 500 hektar sedangkan Universitas negri padang adalah perguruan tinggi yang berorientasikan lulusannya ke pengajar.

Kelas tiga semester dua saya mendapat Undangan Seleksi Masuk IPB(USMI). Keraguan itu selalu ada dalam benak saya dan saya pun ragu untuk mengambilnya. Akhirnya saya mendapatkan masukan dari salah seorang guru yang memiliki anak berkuliah di IPB. Tanpa pikir panjang, saya mengambil USMI dan memilih jurusan pertama TIN dan pilihan kedua Matematika. Saya memiliki kemampuan menganalisis data dan menghitung dari sejak kecil dan lemah di bidan hafalan sehingga saya memilih jurusan ini.

Pengumuman USMI yang di tunggu-tunggu pun tiba dan alangkah sedihnya ketika saya tidak di terima di IPB dengan jurusan favorit saya. Berbagai pikiran tentang kelanjutan studi pun ada di dalam benak saya. Keputusan yang saya ambil adalah mengikuti saran orang tua untuk studi  di sekitaran tempat tinggal saya yaitu Sumatra Barat. Untuk memenuhi keinginan saya sembari mengisi waktu luang menunggu hasil UAN(ujian akhir nasional) sayapun meningkatkan kemampuan  dengan melakukan bimbingan belajar di kota Padang.

Pengumuman ujian akhir nasional yang terjadi pengunduran akhirnya terlaksana juga dan Alhamdulillah saya lulus. euforia pun terjadi.Tetapi tak begitu lama setelah euforia itu, keluarga saya yang berada di Bogor memberitahu saya bahwasannya akan dilaksanakan ujian talenta masuk IPB(UTMI) yang menjadi ujian mandiri pertama untuk IPB.

Sebelum ujian dimulai saya diberi masukan mengenai jurusan yang baik untuk dipilih selama berada di IPB. Agronomi dan Hortikultura adalah jurusan yang di maksud. Akhirnya pengumuman saya lulus dalam seleksi yang diadakan di kota Bogor dan saya terdaftar sebagai mahasiswa Agronomi dan Hortikultura.

Alasan yang paling mendasari saya untuk masuk jurusan Agronomi dan Hortikultura adalah suatu kecelakaan. Setelah berada di IPB beberapa bulan saya baru mengetahui kalau Agronomi adalah ilmu bercocok tanam dan Hortikultura adalah budidaya tanaman perkebunan yang mencakup buah, sayuran, bunga, obat-obatan dan lanskap. Departemen yang saya pilih ini bertentangan dengan bidang ilmu yang saya sukai tetapi menginjak smester tiga, saya mulai menyukai bidang yang saya dapatkan akibat kecelakaan ini.

referensi:

http://www.unand.ac.id

http://unp.ac.id

http://utm.ipb.ac.id/

http://id.wikipedia.org/wiki/Agronomi

http://id.wikipedia.org/wiki/Hortikultura

http://www.kotabogor.go.id/